Jalan Bonjol No.9, Tangerang Selatan,
021 7388 3564
sdialbin17@yahoo.com

Fieldtrip Kelas V: Museum Proklamasi Dan Museum Satria Mandala

Where Millenials Reach Out The Future

Fieldtrip Kelas V: Museum Proklamasi Dan Museum Satria Mandala

webBINTARO, AlbinNews. Alhamdulillah pada hari Rabu tanggal 23 April 2014, murid-murid kelas V SD Islam Al-Azhar 17 Bintaro, melaksanakan kegiatan Filed Trip yang ke-2 untuk tahun ajaran 2013-2014. Tujuan yang dipilih kali ini berkaitan dengan mata pelajaran IPS, yaitu berkunjung ke museum, dan museum yang dikunjungi adalah museum yang berhubungan dengan sejarah proklamasi yaitu museum proklamasi dan juga sejarah perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan yaitu museum satria mandala.

Seperti biasa, para peserta fieldtrip yaitu murid-murid kelas V dan juga para guru pendamping serta orang tua murid yang tergabung dalam Jam’iyyah dan Kelompok Kerja kelas V, mendapatkan briefing dan motivasi dari Bapak Kepala Sekolah sebelum keberangkatan. Diharapkan para murid mendapatkan tambahan knowledge dan juga tambahan pengalaman dengan berkunjung ke museum proklamasi. Dihimbau juga agar anak murid dapat tertib selama mengikuti kegiatan berkunjung tersebut. Tentang kunjungan ke museum proklamasi adalah sebagaimana pesan dari  Bapak Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah” yang lazim dikenang oleh banyak orang sebagai Jasmerah.

Kemudian rombongan Fieldtrip SDIA 17 Bintaro berangkat menuju lokasi pertama yaitu Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang terletak di Jl. Imam Bonjol No.1, Jakarta Pusat. Kenapa lokasi museum ini menjadi penting, karena ini adalah bekas rumah dari Laksama Muda Tadashi Maeda, Perwira Tinggi Angkatan Laut Jepang yang bersimpatik dengan perjuangan rakyat Indonesia. Atas prakarsa dari Laksama Maeda yang memberikan tempat bagi para barisan pemuda Indonesia, Dwi Tunggal, Bung Karno dan Bung Hatta, serta 27 orang perumus Naskah proklamasi.  Setelah sehari sebelumnya membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengas Dengklok oleh para pemuda untuk memproklamasikan kemerdekaan, kemudian di rumah inilah akhirnya Naskah Teks Proklamasi disusun dan dibahas, kemudian di ketik oleh Sayuti Melik.

Para murid sangat antusias dengan arahan dan bimbingan oleh para Ibu dan Bapak dari Dinas Museum, mereka diklasifikasikan dengan tiga kelompok murid. Yaitu kelompok pertama yang di ajak menyaksikan film dokumenter seputar penyusunan naskah proklamasi, kemudian kelompok kedua mengekplorasi ruangan di lantai 1 Gedung Museum dan kelompok ketiga mengekplorasi lantai 2 Gedung Museum. Berdiri di atas lahan  3.914 meter persegi dan luas bangunan 1.138 meter persegi. Bangunan masih nampak kokoh walau sudah usang dan tua. Di lantai satu masih ada meja dan bangku dimana Bung Karno, Bung Hatta dan Laksamana Maeda mendiskusikan naskah proklamasi, kemudian ruangan dimana Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi berikut dengan  mesin ketiknya, kemudian foto-foto serta ruangan diskusi yang lebih besar lagi, dan ruangan pemutaran film juga terdapat pada lantai 1 (satu) ini juga. Lanjut ke kebun belakang, ternyata ruang belakang bekas rumah Maeda ini sangat luas, berbatasan dengan council kedutaan Inggris, dimana gedung museum Naskah Proklamasi ini dahulu setelah Indonesia Merdeka sempat diduduki oleh Tentara Inggris, dijadikan British Council dan kemudian baru pada tahun 1981 melalui deparetemen pendidikan dan kebudayaan Gedung ini akhirnya dijadikan Kantor dan kemudian Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Beranjak ke lantai 2, melalui tangga yang bernuasa dan terpengaruh bentuk Art Deco, suatu arsitektur yang terbilang modern pada jamannya, dimana gedung ini berdiri sejak tahun 1931. Di lantai 2 ini terdapat beberapa ruangan lagi, yang berisikan memorabilia stempel, bentuk art work/leaflet dari pergerakan kemerdekaan, stempel dan juga cap para pejuang. Foto-foto laksamana Maeda dan keluarganya, kamar tidur dan juga kamar mandi.

Setelah selesai dari Museum Naskah Proklamasi, rombongan peserta Field Trip SDIA 17 Bintaro yang terdiri dari 3 (tiga) rombongan jet bus, membelah jalan HR.Rasuna Said menuju ke arah Jl. Gatot Subroto menuju ke Gedung Museum Satria Mandala, yang pada masa lalu dikenal sebagai Wisma Yaso, kediaman dari Ibu Dewi Soekarno, Yaso sendiri berasal dari nama adiknya Ibu Dewi. Hari-hari terakhir sang Proklamator banyak dihabiskan di sini, dikarenakan beliau mendapat hukuman peng-isolasian oleh pemerintahan yang berkuasa pada saat itu.

Museum Satria Mandala sangat luas lokasinya terletak di Jalan Gatot Subroto Kav 14 – 16, museum ini diresmikan pada tahun 1972. Begitu memasuki ruang depan, terdapat panji dan juga tanda gambar dari 4 (empat) Angkatan, di mulai dari angkatan Laut, Udara, Darat dan Kepolisian, terpampang juga teks proklamasi dalam ukuran besar pada dinding depan. Melihat berbagai diorama sejarah terbentuknya tentara, peristiwa penting yang melatar-belakangi semua angkatan. Kemudian bukti fisik berupa tandu dari Panglima Besar Sudirman, jaket dan beberapa barang pribadi beliau, juga terdapat juga barang koleksi pribadi Jenderal Oerip Sumohardjo, Jendral Besar AH Nasution, dan tentu saja Jenderal Besar Soeharto.

Dokumentasi Kontingen Garuda  (Konga) yang diperbantukan untuk misi damai di berbagai wilayah yang sedang konflik, mulai dari Kontingen Garuda I dikirim                                                        pada 8 Januari 1957 ke Mesir. Kontingen Garuda Indonesia I terdiri dari gabungan personel dari Resimen Infanteri-15 Tentara Territorium (TT) IV/Diponegoro, serta 1 kompi dari Resimen Infanteri-18 TT V/Brawijaya di Malang sampai Kontingen Garuda XXVI-C2 atau biasanya di Indonesia dikenal dengan Satgas Indonesian Force Protection Company (Indo FPC) adalah Satuan Tugas yang diberikan wewenang dan tanggung Jawab untuk pengamanan UNIFIL Head Quarter di Naqoura. Kontingen Garuda XXVI-C2/UNIFIL mengambil alih tanggung jawab pengamanan dari Kontingen Garuda XXVI-B2/UNIFL melalui upacara Transfer Of Autority (TOA) dari Letkol Inf Fulad kepada Mayor Inf Henri Mahyudi dalam upacara serah terima yang dilaksanakan pada tanggal 19 Nopember 2010 di Lapangan Upacara Sudirman Camp. Kontingen Garuda XXVI-C2/UNIFIL terdiri dari 150 prajurit yang direkrut melalui seleksi dari Pasukan elit TNI antara lain dari Kopassus, Paskhas, Marinir, Den Jaka dan beberapa personel pendukung dari Kostrad dan Mabes TNI.

Kemudian beralih ke lantai bawah yang  dahulunya bekas kolam renang, adalah kumpulan deretan senjata yang merupakan senjata para tentara sejak awal perang kemerdekaan, yang berhasil direbut dari Belanda, Inggris, Jepang, senjata tersebut buatan, Inggris, America, Rusia, kemudian senjata buatan Cekoslovakia, Rusia dan beberapa jenis senjata lainnya. Mulai pistol, senapan dua laras, pelontar roket, mortar hampir kesemua senjata tersebut merupakan sumbangan dari berbagai kesatuan dan juga para pejuang. Keluar dari lokasi persenjataan, terdapat kendaraan baik kendaraan sipil maupun militer yang ada kaitannya dengan sejarah ketentaraan. Dari mobil yang dipakai sukarno, kemudian beberapa tank dan panser, pesawat, kapal laut, radar, meriam dan misil. Bahkan Tank yang dipergunakan dalam agresi militer belanda ke-dua yang juga kemudian dipakai untuk misi penumpasan PRRI/Permesta sampai dengan perebutan Irian Barat.

Para murid peserta Field Trip sangat terkesima dengan paparan dari Bapak-bapak petugas Museum Satria Mandala, mereka membuat catatan-catatan kecil dan mendokumentasikan dengan kamera pocketnya. Kemudian tepat pukul 14.00 WIB kunjungan Field Trip murid kelas V SDIA 17 Bintaro berakhir dan kembali menuju ke Kampus SDIA 17 Bintaro. Terimakasih kepada para Bapak/Ibu pendamping Fieldtrip, Bapak Kepala Sekolah, Ibu-ibu dari Jam’iyyah dan Pokja Kelas V, dimana atas partisipasi dan kerjasamanya makanya kegiatan Fieldtrip dapat berjalan dengan baik dan lancar. [M. Radhi]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Contact Form Powered By : XYZScripts.com